Dosen Universitas Citra Bangsa Kupang Presentasikan Warisan Budaya Tionghoa di Beijing Foreign Studies University

Universitas Citra Bangsa (UCB) Kupang turut ambil bagian dalam program Kang Cing Wie yang diselenggarakan dengan fasilitasi Konsulat Jenderal Republik Rakyat Tiongkok di Denpasar. Kegiatan ini mempertemukan sejumlah perguruan tinggi dari Bali, Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timur dalam rangka memperkuat hubungan pendidikan, kebudayaan, dan kerja sama akademik Indonesia–Tiongkok.

Dalam kegiatan tersebut, Jhon Enstein, S.Kom., M.Cs. bersama Dr. Agnes Maria Diana Rafael, S.Pd., M.Hum. dari Universitas Citra Bangsa Kupang berkesempatan mempresentasikan kajian bertajuk Chinese Heritage in Kupang: History, Language Shift, Cultural Adaptation & Ancestral Identity di Beijing Foreign Studies University (BFSU).

Presentasi ini mengangkat sejarah kehadiran masyarakat Tionghoa di Kupang, perubahan penggunaan bahasa Tionghoa, serta keberlanjutan identitas dan warisan budaya leluhur dalam kehidupan masyarakat Kota Kupang. Kajian tersebut menempatkan Kupang sebagai ruang pertemuan sejarah perdagangan, migrasi, dan interaksi budaya di kawasan Nusa Tenggara Timur.

### Disambut Langsung Dekan Fakultas Studi Asia BFSU

Kedatangan delegasi disambut langsung oleh Dekan Fakultas Studi Asia Beijing Foreign Studies University, Prof. Su Yingying. Dalam sambutannya, Prof. Su Yingying memperkenalkan BFSU sebagai perguruan tinggi yang berdiri pada tahun 1941 dan memiliki 101 jurusan bahasa asing.

BFSU juga memiliki program studi Bahasa Indonesia dan Bahasa Malaysia, yang menjadi bagian penting dalam pengembangan kajian bahasa dan hubungan akademik antara Tiongkok dengan negara-negara di Asia Tenggara. Dalam kesempatan tersebut, BFSU disebut sebagai perguruan tinggi dengan peringkat 66 dunia.

Sambutan tersebut menjadi bagian penting dari kegiatan akademik karena memperlihatkan perhatian BFSU terhadap pengembangan studi bahasa, budaya, dan hubungan pendidikan dengan perguruan tinggi di Indonesia.

### Mengangkat Sejarah dan Warisan Budaya Tionghoa di Kupang

Dalam presentasinya, Jhon Enstein dan Dr. Agnes Maria Diana Rafael menjelaskan bahwa Kupang memiliki sejarah panjang sebagai wilayah yang terhubung dengan jaringan perdagangan maritim. Perdagangan kayu cendana dan mobilitas masyarakat dari berbagai wilayah turut membentuk perkembangan Kupang sebagai pusat perdagangan, politik, dan pertemuan budaya.

Kajian tersebut juga membahas kehadiran masyarakat Tionghoa di Kupang yang dalam sumber sejarah penelitian dikaitkan dengan aktivitas perdagangan sejak sekitar abad ke-18. Seiring waktu, kehadiran tersebut berkembang menjadi keluarga, komunitas, serta praktik budaya yang menjadi bagian dari lanskap sosial dan sejarah Kota Kupang.

Salah satu ruang warisan budaya yang menjadi perhatian dalam kajian adalah Rumah Abu Siang Lay yang berada di kawasan Lahilai Bissi Kopan (LLBK). Rumah abu tersebut dipandang sebagai ruang leluhur dan genealogis yang menyimpan sejarah keluarga serta memori kolektif masyarakat Tionghoa di Kupang.

### Perubahan Bahasa dan Keberlanjutan Identitas Leluhur

Kajian yang dipresentasikan menggunakan pendekatan linguistic landscape, perubahan bahasa, dan identitas budaya untuk memahami hubungan antara bahasa, sejarah, dan representasi warisan leluhur.

Berdasarkan dokumentasi terhadap 706 teks dan tanda yang ditemukan dalam lokasi penelitian, bahasa Indonesia menjadi bahasa yang paling dominan, sedangkan aksara Hanzi memiliki keterlihatan yang sangat terbatas di ruang publik. Namun, aksara Hanzi dan simbol-simbol budaya masih ditemukan pada ruang-ruang leluhur yang memiliki makna sejarah dan genealogis kuat.

Temuan tersebut menunjukkan bahwa perubahan penggunaan bahasa tidak selalu berarti hilangnya identitas budaya. Warisan leluhur dapat tetap dipelihara melalui ruang ancestral, aksara, simbol arsitektur, memori sejarah, dan keterlibatan pendidikan.

Presentasi ini juga menekankan pentingnya penelitian lanjutan melalui wawancara dan observasi untuk memahami praktik bahasa keluarga, hubungan antargenerasi, serta bentuk adaptasi budaya secara lebih menyeluruh.

### Diikuti Perguruan Tinggi dan Institusi Akademik

Program Kang Cing Wie di Beijing Foreign Studies University turut diikuti oleh peserta dari sejumlah perguruan tinggi di Bali, Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timur. Selain delegasi Universitas Citra Bangsa, kegiatan ini juga dihadiri peserta dari Peking University dan CIDGA.

Kehadiran para peserta dari berbagai perguruan tinggi tersebut memperkaya pertukaran gagasan mengenai pendidikan, bahasa, kebudayaan, dan peluang kerja sama akademik antara Indonesia dan Tiongkok.

Bagi Universitas Citra Bangsa, keikutsertaan dalam kegiatan ini menjadi kesempatan untuk memperkenalkan sejarah dan kekayaan budaya Nusa Tenggara Timur dalam forum akademik internasional. Kajian tentang warisan budaya Tionghoa di Kupang juga membuka ruang dialog mengenai pentingnya pelestarian identitas budaya lokal melalui penelitian, pendidikan, dan kolaborasi antarperguruan tinggi.

Melalui kegiatan ini, UCB terus mendorong penguatan kerja sama internasional serta kontribusi akademik dalam memperkenalkan potensi sejarah dan budaya Indonesia Timur kepada masyarakat akademik global.

tags:
Kategori