Sinergikan Ilmu Medik dan Teknik Evakuasi Mahasiswa UCB Jalani Pelatihan di Kantor SAR

Mahasiswa Keperawatan Universitas Citra Bangsa (UCB) Kupang jalani pelatihan teknik evakuasi dan penyelamatan lapangan di Kantor Pencarian dan Pertolongan (SAR) Kelas A Kupang.

Demikian dibenarkan ​Kepala Kantor SAR Kelas A Kupang, I Made Junetra, S.H., M.M., yang dihubungi, Senin (02/11/2026).

Menurut Junetra, pelatihan ini dirancang untuk membangun sinergi antara kemampuan medis keperawatan dengan teknik penyelamatan lapangan dalam penanganan bencana.

Junetra menjelaskan bahwa pelatihan diikuti oleh total 255 peserta yang dibagi ke dalam empat tahap pelaksanaan, di mana setiap kelompok terdiri dari sekitar 60 mahasiswa.

​"Mahasiswa keperawatan memiliki pemahaman teori dan medis yang sangat baik. Melalui kolaborasi ini, kita kombinasikan kemampuan medis tersebut dengan ilmu teknis lapangan yang dimiliki oleh para rescuer Basarnas," ujar Junetra.

​Dalam kegiatan ini, menurut Junetra para mahasiswa mendapatkan materi serta praktik langsung yang dipandu oleh instruktur penyelamat (rescuer) Basarnas Kupang. Pembekalan mencakup teknik pertolongan di ketinggian (rappelling), penanganan cedera pada kegiatan evakuasi tebing (hiking rescue), hingga penanganan darurat korban di air (water rescue).

​Ditegaskan Junetra, pentingnya kolaborasi dan pembagian peran yang jelas di lapangan agar proses pertolongan masyarakat berjalan efektif tanpa adanya tumpang tindih penanganan.

​"Ketika terjadi bencana, sinergi ini sangat krusial. Penyelamat dan tenaga medis harus berjalan selaras. Kami membekali mereka agar saat tiba di bawah atau di lokasi evakuasi, langkah-langkah penanganan darurat dan asesmen cedera dapat dilakukan secara cepat dan tepat," jelas Junetra.

​Rangkaian pelatihan untuk tiap kelompok akan diakhiri dengan simulasi lapangan terpadu. Dalam simulasi tersebut, mahasiswa dituntut untuk menerapkan kombinasi antara ilmu keperawatan yang didapat di bangku kuliah dengan teknik evakuasi Basarnas.

​"Melalui simulasi ini, kita ingin melihat sejauh mana materi dapat diserap dan dikombinasikan. Harapannya, ketika mereka berada di lapangan kelak, mereka sudah siap memberikan pelayanan terbaik bagi masyarakat dalam kondisi darurat maupun bencana," ujar Junetra.

Pelengkap Teori

​Ketua Perwakilan Mahasiswa Keperawatan UCB, Marianus Valentianus mengatakan pelatihan intensif yang berlangsung selama empat hari ini, untuk membekali calon tenaga medis dengan keterampilan praktis di lapangan.

​"Kami selama empat hari di Basarnas, mempelajari banyak hal teknis terkait penanganan korban bencana," ujar Marianus.

​Dalam pelatihan tersebut, para mahasiswa mendapatkan berbagai materi krusial mengenai penanganan gawat darurat. Beberapa di antaranya meliputi teknik pemilahan pasien (triage) cepat—terutama untuk memprioritaskan korban dengan kebutuhan khusus—serta metode pemindahan pasien menggunakan tandu, teknik memopong, hingga memikul korban.

​Tak hanya itu, peserta juga dilatih melakukan evakuasi dari ketinggian (rappelling) untuk mensimulasikan aksi penyelamatan pada kejadian kebakaran atau bencana di gedung bertingkat dan medan terjal.

​"Materi ini sangat penting sebagai pelengkap teori Keperawatan Bencana yang kami pelajari di kampus. Ini adalah kali pertama angkatan kami turun langsung untuk praktik lapangan bersama pelatih profesional dari Basarnas," tambah Marianus.

​Kegiatan pelatihan ini dipandu langsung oleh instruktur berpengalaman dari Basarnas serta didampingi oleh dosen pembimbing kampus, yakni Ibu Ista, Ibu Atik, dan Ibu Eta.

​Pada sesi pembukaan, pihak Basarnas memberikan pengarahan khusus mengenai kesiapan mental dan pengenalan skenario lapangan.

Pelatihan ini diharapkan dapat memberikan gambaran nyata bagi para mahasiswa mengenai tantangan penanggulangan bencana skala besar.

​Dengan adanya pembekalan ini, para lulusan keperawatan diharapkan tidak hanya mahir secara teoritis, tetapi juga sigap, dan adaptif saat diterjunkan langsung membantu masyarakat dalam situasi darurat bencana.(*)

tags:
Kategori