​Mahasiswa Fikes UCB Diingatkan Pentingnya Kedisiplinan

Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Ilmu Kesehatan (Fikes) Universitas Citra Bangsa (UCB) menggelar seminar dalam rangka merayakan Dies Natalis ke-19 di Aula Lantai V Kampus UCB Kupang, Sabtu (31/10/2026). Seminar ini mengusung tema "Membangun Generasi Kesehatan Unggul Melalui Inovasi dan Kolaborasi Menuju Masa Depan Berkelanjutan Fakultas Ilmu Kesehatan".

​Mengawali sambutannya, Dekan Fikes UCB Kupang, Ns. Sakti Oktaria Batubara, S.Kep., M.Kep., Ph.D., mengenang perjalanan institusi yang berdiri sejak tahun 2008 dengan nama awal Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKES) Citra Husada Mandiri Kupang (CHMK).

Fikes UCB telah melahirkan banyak alumni berprestasi yang berkarier di sektor kesehatan nasional maupun internasional, seperti di Jepang, Belanda, dan Singapura. Bahkan, alumni angkatan pertama telah menyelesaikan pendidikan doktor keperawatan.

Ns. Sakti Oktaria menekankan pentingnya kedisiplinan bagi para calon tenaga medis. Menurutnya, kedisiplinan merupakan kunci utama dalam pelayanan kesehatan, khususnya di Instalasi Gawat Darurat (IGD) yang menuntut ketepatan waktu serta kecepatan tindakan demi menyelamatkan nyawa pasien.

​Kontrol Diri di Era Digital

​Pemateri pertama dari Kantor Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga) / BKKBN NTT, Eduardus Yohanes Sahagun, M.A., mengajak mahasiswa memanfaatkan momen dies natalis sebagai wadah refleksi diri. Mengutip data BPS, Eduardus memaparkan bahwa jumlah remaja di NTT mencapai 473.600 jiwa dari total 5 juta penduduk. Potensi besar ini merupakan aset berharga bangsa dalam menyambut fenomena bonus demografi, yaitu kondisi ketika jumlah penduduk usia produktif (15–64 tahun) lebih dominan dibandingkan usia non-produktif.

​Namun, Eduardus menyoroti adanya pergeseran bentuk kenakalan remaja di era Gen Z. Kenakalan remaja yang dahulu bersifat konvensional kini banyak bertransformasi ke ranah online, seperti judi online dan prostitusi online yang kian marak di Kota Kupang, bahkan kerap melibatkan anak usia sekolah.

​"Akses informasi melalui gawai tidak memiliki batasan. Orang tua, dosen, maupun teman tidak bisa mengawasi selama 24 jam. Karena itu, calon perawat, bidan, dan apoteker dituntut untuk memiliki kemampuan kontrol diri yang kuat," tegas Eduardus.

​Dalam sesi interaktifnya, Eduardus juga menguji kefokusan dan daya tangkap mahasiswa melalui instruksi menggambar serta simulasi pesan verbal (the power of words). Metode ini menjadi jembatan untuk menyampaikan materi kesehatan reproduksi dan program Generasi Berencana (Genre).

Program Genre berfokus pada tiga pencegahan utama yaitu pencegahan pernikahan dini, penyalahgunaan narkoba, serta seks bebas/pranikah.

Di akhir sesi, Eduardus mengingatkan agar penguasaan ilmu medis selalu diimbangi dengan perbaikan karakter, etika, dan tutur kata yang santun.

Kolaborasi Interprofesi

​Pemateri kedua, Rosania E. B. Conterius, S.KM., M.Kes., dari LP3M/LPM UCB, membawakan materi bertajuk "Sinergi Kolaborasi Mahasiswa Kesehatan sebagai Langkah Awal Mewujudkan Pelayanan Kesehatan yang Holistik dan Berkelanjutan".

​Rosania menjelaskan bahwa kompleksitas masalah kesehatan masyarakat saat ini tidak dapat diselesaikan secara tunggal oleh satu profesi saja, melainkan membutuhkan pelayanan holistik yang memandang manusia secara utuh. Sayangnya, pelayanan kesehatan di lapangan sering kali menghadapi tantangan fragmentasi yang dipicu oleh tiga faktor utama:

​Ego Sektoral Profesi: Adanya penyekatan (silotasi) akademik yang memicu batasan kaku antarprofesi medis.

​Miskomunikasi Klinis: Kurangnya komunikasi efektif antarstaf medis yang menjadi pemicu hingga 70% timbulnya kesalahan medis (medical error).

​Kompleksitas Ekspektasi Pasien: Penanganan penyakit kronis membutuhkan pendekatan multifaset dari berbagai bidang keahlian.

​Sebagai solusinya, Rosania mendorong penerapan budaya Interprofessional Education (IPE) sejak masa kuliah. Untuk membangun kolaborasi yang efektif, mahasiswa dibekali empat pilar kompetensi utama:

​Etika dan Nilai Bersama: Mengutamakan keselamatan pasien di atas kepentingan kelompok.

​Peran dan Tanggung Jawab: Memahami batasan kewenangan masing-masing profesi tanpa mengurangi efektivitas kerja sama.

​Komunikasi Interprofesi: Mengembangkan komunikasi yang transparan, jelas, dan saling menghormati.

​Kerja Tim dan Dinamika: Mengelola dinamika tim untuk merumuskan keputusan terbaik bagi pasien.

​Untuk mengatasi tumpang tindih peran dan stereotip antarprofesi, Rosania menyarankan alur praktis berupa briefing singkat, pembatasan kewenangan yang jelas di bawah supervisi dosen pembimbing, serta evaluasi berkala.

Rosania menutup pemaparannya dengan menegaskan bahwa keunggulan seorang tenaga kesehatan tidak hanya diukur dari kecakapan individu, melainkan dari kemampuannya berkolaborasi demi keselamatan pasien.

Seminar dimoderatori oleh Bdn. Maria Magdalena Mue Juwa, S.Tr.Keb., M.Keb. dan dihadiri oleh Wakil Dekan Fikes, Ketua Program Studi, dosen, pengurus BEM, serta ratusan mahasiswa Fikes UCB Kupang. (*)

tags:
Kategori